Komersialisasi Budaya

0
77

KOREKSI.ID, OPINI – Budaya tidak bisa dipungkiri menjadi keniscayaan umat manusia dimanapun berada. Baik budaya dipandang dalam sebuah etika, ritual ataupun yang lainnya. Semua itu adalah keragaman dan bagian dari ciri khas bangsa indonesia.

Suku Kaili di Sulawesi tengah  misalnya ada Ritual  Balia yang dipraktekkan oleh orang tua dahulu sebagai proses penyembuhan penyakit.

Balia berbeda dengan tarian dero yang bisa dipertunjukkan kapan saja, karena dero menjadi wadah perkenalan bagi yang melakukan dan sebagai penyambung silaturahmi.

Ada tradisi yang bisa menjadi sebuah tampilan setiap saat ada juga yang hanya dilakukan dalam waktu tertentu.

Pelaksanaan Festival Palu Nomoni yang menampilkan Balia menurut penulis bukanlah sesuatu yang tepat karena terkesan eufhoria dan mengabaikan nilai yang dikandung di dalamnya.

Pemerintah Kota Palu lebih mengedepankan ketertarikan para pengujung dari berbagai negara yang menghadiri event itu dan terkesan dikomersialisasi.

Menarik wisatawan lokal dan mancanegara untuk berkunjung ke kota Palu patut kita apresiasi tetapi jangan menyepelekan budaya.

Contoh lain ketika dalam satu kesempatan di Salena, Kelurahan Buluri, Kota Palu dilaksanakan Tarian Rano yang sakral itu tetapi justru pengunjung dari mancanegara (Spanyol) berpakaian yang sedikit aneh bagi masyarakat setempat karena terlihat seksi dan bertentangan dengan nilai lokal.

Kalau cara berpakaian yang tidak sesuai dengan kearifan lokal otomatis nilai yang dikandung dalam ritual apapun itu akan berkurang dan terlihat aneh. Itulah budaya kita harus memahami bukan hanya sekedar ritual tetapi juga ada etika yang luhur.

Kesan yang ada bahwa Pemerintah Kota Palu justru menganggap enteng dan lebih pada mempromosikan  budaya ke mata dunia dan tidak memahami apa sesungguhnya pesan yang disampaikan dalam tradisi-tradisi lokal itu.(**)

Oleh: Arman Seli

Penulis Adalah Sekretaris Umum LS-ADI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here