Indo Buna, Perempuan Tua di Komunitas Adat Kasoloa

0
61

KOREKSI.ID, DONGGALA – Kasoloa adalah salah satu komunitas adat di Kamalisi, secara geografis berada di pegunungan. Seperti masyarakat adat Duriamporanggu yang berada di komunitas itu. Jarak tempuh Kasoloa dari Kota Palu sekitar tiga jam perjalanan. Butuh keahlian khusus untuk mengendarai sepeda motor ke tempat itu.

Komunitas Adat Kasoloa terdiri dari beberapa tempat tetapi kali ini Koreksi.id dan PW AMAN Sulteng berkunjung ke Duriamporanggu, salah satu dusun terpencil di Kecamatan Banawa Selatan, Kabupaten Donggala. Selasa (13/11/18)

Melewati jalan yang sempit dan dua sungai mewarnai perjalanan. Jalan yang tidak di aspal layaknya di perkotaan itu, membuat waktu tempuh agak sedikit terlambat dari waktu normal.

Terlihat di perjalanan hamparan pohon cengkeh dan tumbuhan liar di sekitar perkampungan. Sering kali melewati orang-orang yang ramah dan menyapa. Sampai ditengah perkampungan terlihat wajah lusuh seorang perempuan tua, ia bernama Indo Buna.

Dirinya lagi berkumpul dengan anak-anak termasuk juga beberapa orang cucu. Sepertinya ia kebingungan, mungkin dalam hati ia bertanya tentang kedatangan beberapa orang yang mungkin belum pernah ia liat sebelumnya.

Terucap  salam menyapa perempuan tua itu,serentak mereka yang ada di rumah sederhana menjawab dan mempersilahkan untuk masuk.

Duduk melantai di teras rumah menyatu dengan keluarga Indo Buna kemudian berbicara dan saling kenal.

Indo Buna yang tidak bisa berbahasa indonesia itu selalu memperjelas tujuan kedatangan kami yang mengunjunginya.

Ia juga terlihat menutup wajahnya ketika di foto. tetapi salah satu anaknya meyakinkan dirinya, tidak apa-apa dengan menggunakan bahasa Kaili Unde.

Sambil tersenyum dirinya mengatakan ” Fotomo unde nakuya,” demikian ia berkata dengan bahasa setempat yang artinya foto saja tidak apa-apa.

Ditanya soal usia, ia tidak mengetahui pasti hanya saja Indo Buna menuturkan bahwa keturunannya sudah Toluntapi (Cicit) dan anak yang paling muda sudah berusia 50 tahun.

Perempuan tua itu juga menceritakan  masa lalu bahwa ia dan bapaknya pernah sembunyi di balik batu besar di salah satu tempat ketika penjajah Jepang mengejar mereka.

Usianya diperkirakan sudah ratusan tahun tetapi senyum di wajahnya selalu terlihat.

Setelah berbicara dengan mereka, akhirnya kami pamit pulang tetapi ditahan karena salah satu cucunya lagi menyajikan kopi.

Usai minum Kopi ia diberi sebungkus rokok, spontan dirinya berkata taghima kasi yang berarti terimah Kasih.

Setelah itu kami pulang dan menuju Palu, masih terlihat rasa senang di wajahnya. Ia berulang berterimakasih dengan menggunakan bahasa setempat. #Arman Seli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here