Narasi Syirik untuk Siapa?

0
127

KOREKSI.ID,OPINI – Pasca Gempa berkekuatan 7’4 SR. di Kota Palu dan Sekitarnya.Kemudian dampak yang ditimbulkan juga bukan hanya kerusakan infrastruktur, lambatnya perputaran ekonomi dan berkembangnya narasi syirik seakan menyudutkan masyarakat Adat.

Hal tersebut akibat dari pelaksanaan Balia yang dilakukan oleh sekelompok orang dan memunculkan pandangan di masyarakat bahwa penyebabnya karena ritual tersebut.

Bukan bermaksud mengarahkan pembelaan kepada aktor politik yang menunggangi issu ini. Hanya saja keprihatinan kepada Masyarakat Adat yang masih memegang teguh adat istiadat.

Narasi Syirik cenderung di balut dengan agama tertentu dan dianggap menduakan Tuhan. Pertanyaannya adalah, Apakah kelompok yang mengatakan Balia sebagai ritual Syirik pernah menanyakan kepada para pembuat balia tentang proses tersebut. Terkait Siapa yang di sembah dan Apa tujuannya?

Tuduhan itu justru sepihak, Kalau syirik diartikan sebagai sesuatu hal menduakan tuhan. Buktinya Kepercayaan masyarakat adat juga percaya adanya tuhan ditandai dengan pelaksaan Nompakoni ataupunNoviata(Tradisi Masyarakat Adat Kamalisi) juga meminta kepada Tuhan dengan penyebutan Lokal.

Adanya istilah tentang penamaan Tuhan dalam Bahasa Kaili, Pue Ala Ta’a (Penutur Da’a), Tupu Ala Ta’ala (Penutur Ledo) Salah satu bukti linguistik bahwa masyarakat Adat sudah Bertuhan.Parameter Balia dianggap sebagai ritual Syirik satu tuduhan yang tidak mendasar.

Penulis: Arman Seli adalah Pegiat Masyarakat Adat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here