Pilpres 2019 di Media Sosial Jadilah Pendukung Bijak

0
143

OPINI REDAKSI – Bentuk dukungan terhadap masing-masing Pasangan Calon (Paslon) presiden adalah hak setiap warga Negara, tetapi menjadi pendukung yang bijak sangat diperlukan.

Calon presiden dan wakil presiden 2019-2024 sudah ditetapkan, berbagai bentuk kampanye dilakukan untuk mendukung paslon. Media sosial menjadi media kampanye yang paling ramai di era milenial.

Jika dilihat dari fenomena yang terjadi, laga pilpres yang mempertemukan pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno ini diprediksi akan lebih panas dibandingkan pada 2014.

Saat pendaftaran calon presiden di Komisi Pemilihan Umum (KPU), ‘Perang’ sudah mulai tampak di antara kubu pendukung. Apakah fenomena ini akan menjadi fenomena yang sehat atau tidak bagi Bangsa ini?.

Saling serang di media sosial dengan saling mencari topik-topik baru yang digunakan untuk menyerang pihak lawan. Ketika pihak oposisi menyerang, maka pihak posisi akan langsung melawan. Terdapat berbagai bentuk sebutan yang disampaikan pada tiap-tiap paslon presiden dan wakil presiden, sebagai bentuk serangan yang diberikan terhadap lawan.

Bahkan terdapat pernyataan, bahwa di media sosial itu yang di cari adalah pembenaran bukan kebenaran. Lalu sudah sejauh mana perang antara para pengiat sosial media saat ini? kampanye sudah di mulai dan media sosial menjadi salah satu bentuk media yang dimanfaatkan untuk melakukan kampanye. Berbagai bentuk kampanye dilakukan yang paling sering kita lihat adalah kampanye hitam, yang diwarnai dengan cara-cara dan trik yang kotor.

Tidak hanya lempar komentar, umbar caci maki dan hoax semakin membuat ramai dan didalamnya terdapat narasi atau penyangkalan terhadap kebenaran fakta.

Black campaign yaitu isu-isu yang dilontarkan dimaksudkan untuk merusak karakter lawan, tanpa adanya kebenaran fakta yang jelas. Perang di media sosial bahkan menjadi ukuran yang dampaknya dapat dirasakan di dunia nyata. Isu-isu negatif sering digunakan untuk mengundang daya tarik publikasi media untuk melakukan serangan serangan politik terhadap lawan.

Melihat fenomena politik pada saat ini, sangat menarik, banyak sekali tagar-tagar yang ramai di media sosial. Perang saling sindir di media sosial sangat ramai. Berbagai bentuk saling cibir dan hujatan mewarnai pelaksanaan pemilihan presiden yang akan digelar Rabu 17 April 2019, tinggal sepuluh hari.

Dengan hanya dua calon dukungan masyarakat tentu akan terbelah. Ada pendukung Jokowi – KH. Ma’rif Amin dan Prabowo Subianto – Sandiaga Uno. Perselisihan pendukung saat ini sudah terlihat jelas di sosial media. Bahkan jauh sebelum capres dan cawapres ditetapkan, perang tagar sudah terjadi. Ada tagar #2019GantiPresiden dan juga #2019TetapJokowi. Bahkan perang yang ramai di jagat maya ini sudah terwujud di dunia nyata.

Hal itu juga dikatakan pengamat media sosial, Ismail Fahmi

“Dalam fenomena ini terdapat dua strategi yang dilakukan yaitu membuat narasi dengan tujuan untuk mempromosi dan menjatuhkan. Menjatuhkan diambil dari kubu lawan dari apa yang kurang, yang pasti pihak ini tidak akan mempromosikan kekurangan dari kubu masing-masing,” jelas Ismail Fahmi peneliti media sosial yang juga pengelola Drone Emprit.

Menyebar berita hoax menjadi tren dalam laga pilpres tahun ini. Karena dalam sosial media yang dicari adalah pembenaran bukan kebenaran, maka tiap kubu akan saling gontok-gontokan terhadap berita yang menyerang masing masing kubu. Saling membela terhadap masing-masing dukungan.

Kebebasan memilih dan dipilih dimiliki oleh warga Negara Indonesia. Karena mendukung satu paslon jangan membuat kita buta terhadap kebenaran yang ada.

Sebagai masyarakat yang melek akan politik, jangan sampai menutup mata terhadap fakta dan kebenaran yang ada. Menjadi masyarakat yang bijak dalam era politik saat ini sangat diperlukan. Bebagai informasi mengenai pekembangan politik saat ini, sangat mudah diakses melalui sosial media. Perang mention dan saling reetwet merupakan fenomena yang sering terjadi di sosial media. Saling balas komentar di sosial media bahkan sampai menyebar kebencian sering terjadi di sosial media. Saat ini sosial media sudah menjadi ruang publik baru bagi masyarakat.

Kesadaran bagi publik perlu ada. Jangan jadikan kebecian menjadi hal yang dapat menutup diri dari kebenaran. Bentuk dukungan terhadap masing-masing paslon adalah hak setiap warga Negara, tetapi menjadi pendukung yang bijak sangat diperlukan.

Jangan membuat warga negara Indonesia trauma dengan janji janji manis yang dilontarkan. Partisipasi aktif dalam demokrasi sangat penting, jangan sampai masyarakat Indonesia menjadi acuh akan politik yang ada, kerena ulah para petinggi Negara ini, hingga akhirnya mereka akan apatis terhadap pemerintah.(***)

#Salam Redaksi Koreksi.id

#Hasjaya

#Batam, Minggu 7 April 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here