Nompongo Tradisi Masyarakat Adat Da’a Sejak Lama

0
437

PALU – Sosok tua itu bernama Rudi (55), diwajah lusuhnya penuh senyum dan ramah menyambut kami (BPAN dan AMAN Sulteng). Terlihat di depannya tempat untuk menyimpan bahan Nompongo yang mereka sebut Epu.

Sontak saya bertanya dengan menggunakan Bahasa Da’a “Nokuya Komi etu” (Apa yang anda Lakukan?)

Jawab dia “Nompongo” (makan pinang)

Nompongo adalah tradisi masyarakat adat Da’a yang sudah dilakukan sejak lama. Selain Pinang (Sambulu), Sirih (Bolu/Legu),  Tembakau (Tambako/Tugi), Kapur (Toila) dan Gambir (Tagambe).

Ditemui di Desa Tuva, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi, Sulteng, Minggu (12/5/19)

Mangge Rudi  menuturkan, bahwa tradisi Nompongo sudah ia lakukan sejak usia belasan tahun sampai saat ini. Ia juga menjelaskan bahwa orang tua mereka dahulu juga melakukan hal yang sama sehingga menurutnya kebiasaan itu sudah turun-temurun

Nasaemo aku Nompongo, da nakedi aku Nompongo. Totua kami Nompongo vo’u. (Saya sudah lama nompongo, sejak kecil saya sudah melakukannya. Orang tua saya juga Nompongo),” ucapnya.

Rudi tidak langsung memakan pinang dan lainnya tetapi terlebih dahulu ia Norutu. Norutu adalah memasukkan bahan Nompongo di sebuah alat penumbuh yang mereka sebut dengan Porutu.

Porutu memiliki lubang  kecil seperti bambu runcing dan berukuran sekitar 20 cm. tujuannya untuk menghaluskan bahan yang sudah di masukkan.

Menurutnya Nompongo bisa menguatkan gigi dan terhindar dari sakit gigi, dengan menggunakan bahasa Da’a.#Arman Seli.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here