Sulbar di WAG OS

0
70

KOREKSI.id, Opini – Mencermati perkembangan forum-forum diskusi di media sosial dengan memanfaatkan kanal yang ada seperti whatshapp, twitter, facebook, instagram web dst, tampak menarik. Menarik karena di sana terdapat dinamika forum layaknya forum tatap muka seperti dalam seminar, lokakarya dan semacamnya.

Wattshap Group Orang Sulbar disingkat OS (Orang Sulbar) dihuni  233 peserta (data 24/9/2020). Keberadaan warga Sulbar dalam whatshapp group ini  berasal dari berbagai latar belakang. Ada agamawan, akademisi, birokrat, pekerja swasta, aktivis dsb. Latar belakang ini menggambarkan kompleksitas warga di WAG OS ini. Tetapi layaknya WAG yang telah berumur kurang lebih 4 tahun ini, ikut  menggambarkan referensi pikiran masyarakat Sulbar sekaligus menjadi preferensi tentang kultur dan budaya pikir masyarakatnya.   Katakanlah cermin masyarakat Sulbar  ada di  OS  atau  melihat  “Sulbar di WAG OS  ini”

Dalam banyak kesempatan, tema-tema yang muncul dan didiskusikan pun beragam. Mulai tema politik, ekonomi, sosial budaya dsb. Temanya berlaku spontan tergantung pembagi informasi yang diunggah oleh peserta. Karena sifatnya spontan hingga arah diskusinya relatif belum menggambarkan  diskusi-diskusi sistematis. Meski begitu tetap saja menarik terutama karena pikiran-pikiran yang ada lebih bersifat spesifik. Tema diskusinya lebih banyak menyoal Sulawesi Barat dengan berbagai problematikanya.

Melihatnya sebagai forum diskusi efektif maka tentu bisa dilihat menurut fungsi diskusi umumnya. Yaitu soal manfaatnya setelah saling menguji gagasan dan pemikiran satu sama lain?. Melihat diskusi  dalam konteksnya untuk bukan saja mendalami pikiran dan  gagasan serta sedikit perdebatan. Atau memperlihatkan  gugatan namun tanpa arah serta miskin penyelesaian masalah?. Karenanya, diskusi selalu tidak cukup untuk sekedar latihan berpikir dengan ajuan argumentasi, namun penggambarannya selalu mengharapkan jalan keluar.  Atau alih-alih bagaimana bisa ditindaklanjuti ke meja penyelesai masalah (decision maker).

Diskusi efektif di OS sebagai gagasan atau pemikiran masyarakat Sulbar lewat medsos ini, tentu saja disayangkan bila tidak menemukan tempat dalam pengertian bagaimana termanfaatkan pikiran dan gagasan baik dari sini. Disayangkan bila bersifat musnah dan berhenti sebagai latihan berpikir saja. Disayangkan bila berakhir begitu saja sementara seluruhnya lahir dari pikiran hebat tetapi tidak menemukan fungsinya seperti halnya yang di keluhkan para pendiskusi termasuk keluhan  dalam diskusi di OS ini tentang apa akhir di setiap diskusi?

Menertibkan diskusi di media sosial termasuk dalam WAG OS tentunya tidak mudah. Sebab peserta diskusi cenderung bahkan selalu tidak berada dalam pemahaman tema secara baik. Tidak memahami tema secara baik tentu membawa masalah dalam diskusi. Memahami tema dalam diskusi yang ruangannya  sangat tidak memungkinkan karena tidak berada dalam penggunaan bahasa sebagai gestur serta hanya  mengandalkan bahasa yang ditulis ke dalam layar.

Pada akhirnya membawa situasinya pada lompatan masalah bahkan lompatan penyelesaian masalah dengan tema-tema dimasalahkan. Dengan demikian merupakan problema tersendiri di luar diskusi tatap muka secara langsung.

Dalam hubungan ini dengan menyelami prinsip terbukanya ruang diskusi yang rasional dan masuk akal berhubungan dengan penegakan azas berserikat dan berpendapat dalam kerangka mempengaruhi pengambilan keputusan adalah menjadi sangat dimungkinkan hingga terdapat inisiatif untuk melakukan hal selanjutnya.

Meskipun kadang kala terjadi ketegangan diantara pengambil keputusan dengan apa yang diajukan oleh masyarakat tetapi dalam konteks ini dipahami akan selalu mendapatkan tempat. Atas dasar bersama-sama melihat bahwa mengelola pengambilan keputusan di pemerintahan menganut sistemnya untuk dibagi daya politiknya yang bersumber dari masyarakat. Sehingga tangungjawab warga mengandaikan gagasan yang dimiliki seharusnya dikembangkan melalui kesempatan untuk mempengaruhi kebijakan dan pengambilan keputusan.

Dengan demikian warga OS ditantang untuk itu, kapan tersedia usulan-usulan dari gagasan yang muncul dari diskusinya. Hadir membawa pikiran dan gagasannya ke meja pengambil kebijakan dan keputusan. Untuk akhirnya memonitor perkembangannya dan melakukan refleksi atas keberhasilan atau hambatan untuk implementasi usulan yang diajukan.(**)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here